Feeds:
Pos
Komentar

SELAYANG PANDANG
Yayasan Husnul Khotimah Kuningan adalah Lembaga Pendidikan Islam yang diwakafkan oleh salah satu pendirinya yaitu H. Sahal Suhana, SH dan keluarga, berdiri pada tahun 1994. Sejak awal berdiri telah berkonsentrasi di bidang pendidikan Islam dengan menyelenggarakan pendidikan tingkat Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah. Hal ini dilakukan dalam rangka mencerdaskan bangsa dan turut serta menyukseskan dunia pendidikan di Negeri Indonesia yang tercinta ini.
Alhamdulillah, sejak awal animo masyarakat untuk mempercayakan pendidikan putra-putrinya di Pondok Pesantren Husnul Khotimah sangat besar, bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun, mereka datang dari penjuru tanah air dan juga dari Asia tenggara. Maka dengan jumlah peminat yang begitu besar, Pesantren perlu melakukan seleksi masuk pada setiap penerimaan calon santri-santrinya. Dan sekarang Pesantren telah mengeluarkan lebih dari 1000 alumni, mereka melanjutkan pendidikannya di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, baik dalam maupun luar negeri, bahkan tidak sedikit dari mereka telah mengabdikan dirinya di masyarakat.
Didorong oleh besarnya kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap para muwajjihin/muwajjihat yang berkafa’ah memadai, dan diperkuat oleh para wali santri agar Pondok Pesantren Husnul Khotimah menyelenggarakan Sekolah Tinggi untuk kelanjutan pembinaan dan pendidikan putra-putri mereka yang telah tamat Madrasah Aliyah, dan dengan mempertimbangkan besarnya jumlah alumni yang rata-ratanya mencapai 180 santri pertahun serta sadar akan potensi yayasan berupa SDM maupun sarana dan prasarana yang dimilikinya, maka dengan bertawakkal kepada Allah SWT, mulai tahun akademik 2010/2011 ini, Yayasan Husnul Khotimah Kuningan menyelenggarakan Sekolah Tinggi Agama Islam Husnul Khotimah sekaligus membuka pendaftaran mahasiswa baru diawali dengan Jurusan Tarbiyah program studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Prodi ini dijadikan prioritas karena sejalan dengan motto Pesantren Husnul Khotimah yakni “Lembaga Pendidikan berbasis Da’wah dan Tarbiyah”, dan hal ini diharapkan meningkatkan nuansa keilmuan dan tarbiyah “Jawwul ‘Ilmi wattarbawi” yang sudah ada di Pondok Pesantren Husnul Khotimah.
VISI DAN MISI
Visi
Menjadi pusat pengkajian dan pengembangan keilmuan Islam yang unggul dan kompetitif, serta menjadi kontributor terdepan dalam mencetak ulama yang berpengetahuan luas dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Misi:
(1) Menyelenggarakan pendidikan tinggi Islam yang memiliki keunggulan dan daya saing, untuk menyiapkan ulama dan sumber daya manusia yang profesional, kredibel dan kapabel;
(2) Mengembangkan penelitian dan pengembangan bidang Ilmu-ilmu keislaman yang relevan dengan tingkat kebutuhan masyarakat;
(3) Mengembangkan pola pemberdayaan masyarakat Muslim dalam meningkatkan kecerdasan dan moralitas bangsa.
TUJUAN
Lulusan Sekolah Tinggi Agama Islam Husnul Khotimah diharapkan :
1. Memiliki kemampuan mengajarkan tilawah Al-Qur’an yang baik dan benar (itqon).
2. Hafal minimal 5 juz Al-Qur’an dengan lancar dan memahami tafsirnya.
3. Menjadi ulama yang handal, berpengetahuan luas dan berwawasan global.
4. Mahir berkomunikasi dan mampu membuat karya tulis menggunakan bahasa Arab dengan baik dan benar.
5. Memiliki semangat keislaman (ghiroh Islamiyah) yang tinggi dalam memperbaiki bangsa dan negara.

STRUKTUR YAYASAN HUSNUL KHOTIMAH KUNINGAN
DEWAN PEMBINA :
Ketua : H. Sahal Suhana, S.H.
Anggota : Prof. DR. H. Achmad Satori Ismail, MA.
DR. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA.
DR. H. Surahman Hidayat, MA.
KH. Yusuf Supendi, Lc.
KH. Achidin Noor, MA.
DEWAN PENGAWAS
Ketua : KH. Abdul Malik Musir, Lc
Anggota : KH. Kosasih Thoyyib, Lc. MH.
H. Ibrahim Sukanta

Ketua Umum Yayasan : Mu’tamad, Lc. Al Hafidz
Wakil Ketua : H. Maman Kurman, S.H.
Sekretaris : H. Asep Saputra
Bendahara : Wawan Setiawan, S.Sos.I.
Divisi Kepesantrenan : KH. Amam Badruttamam, Lc.
Divisi Pendidikan : Imam Nur Suharno, M.Pd.I.
Divisi Perguruan Tinggi : Moh. Sabiqin AS, Lc.
Divisi HRD & Personalia : Sanwani, S.H.
Divisi Ekonomi & Keuangan : Dwi Basyuni Natsir, Lc.
Divisi Sarana & Bangunan : Uung Kuswara
Divisi Humas & Dakwah : Drs. Diding Tarmidi, M.Si.
JURUSAN DAN PROGRAM STUDI (PRODI)
Di awal berdirinya sekolah tinggi ini baru akan membuka satu jurusan yaitu Tarbiyah dengan program studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Dan Alhamdulillah semua sarana dan prasarana telah tersedia sehingga pada tahun akademik 2010/2011 kegiatan perkuliahan dapat dimulai.
KURIKULUM
Kurikulum Sekolah Tinggi Agama Islam Husnul Khotimah menggunakan kurikulum standard nasional yang dipadukan dengan kurikulum kekhususan Husnul Khotimah seperti Tahfidz Al Quran, Studi Bahasa Arab Intensif dan Manhaj Tarbiyah.
PIMPINAN SEKOLAH TINGGI
Ketua : Prof. Dr. Achmad Satori Ismail, MA
Ketua Jurusan Tarbiyah : KH. Abdul Rosyid, Lc. M.Ag.
Ketua Prodi (PAI) : Alfan Syafi’i, Lc. M.Pd.I.
Sekretaris : Elfa Robi, Lc.
DOSEN SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM HUSNUL KHOTIMAH
Prof. DR. H. Achmad Satori Ismail, MA
DR. H.M. Hidayat Nur Wahid, MA
Dr. KH. Surahman Hidayat, MA
Prof. Dr. Agus Priyono
KH. Achidin Noor, MA
KH. Kosasih Thoyib, Lc. MH.
KH. Mu’tamad, Lc Al-Hafizh
KH. Amam Badruttamam, Lc.
Alfan Syafi’i, Lc. M.Pd.I
KH. Abdul Rosyid, Lc. M.Ag.
KH. Syaeroji Hasan, M.Ag.
Muhammad Abdullah, M.Ag.
Imam Nur Suharno, M.Pd.I
Jajang Aisyul Muzakki, Lc, M.Pd.I
Drs. Diding Tarmidi, M.Si.
M. Mabruri Fauzi, MA.
Muslich Marzuki, Lc, M.Ag.
Moh. Sabiqin, Lc.
Sufyan Nur, Lc
Asril Rusli, Lc.
Maqsudi Nawawi, Lc.
Dan lain-lain
PERKULIAHAN
Program Reguler - Senin s.d. Kamis
Program Non Reguler - Jum’at s.d Sabtu
FASILITAS
• Gedung kuliah yang representatif
• Masjid
• Ruang Pertemuan
• Laboratorium Bahasa
• Laboratorium Komputer
• Internet dan LCD
• Perpustakaan
• Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren)
• Lapangan olahraga.
• Waserda, Kiospon dan Kantin
• Dan lain-lain
INFO PENDAFTARAN
• Syarat Pendaftaran
– Lulusan Madrasah Aliyah Negeri / Swasta / SMA / Sederajat.
– Foto Copy ijazah atau surat keterangan lulus dilegalisir sebanyak 2 (dua) lembar.
– Surat keterangan sehat dari Dokter.
– Pas Photo hitam putih terbaru 2×3 sebanyak 2 (dua) lembar dan 3×4 sebanyak 3 (tiga) lembar
– Biaya pendaftaran Rp. 150.000,-
– Mengisi formulir pendaftaran.
– Semua persyaratan dimasukkan dalam stopmap warna hijau.
• Tempat dan Waktu Pendaftaran
Tempat :
Kampus Pondok Pesantren Husnul Khotimah (PPHK), Desa Maniskidul Kecamatan Jalaksana Kabupaten Kuningan
Waktu :
Pukul 08.00 s.d 15.00, setiap hari kecuali hari Jum’at
• Jadwal Kegiatan Penerimaan Mahasiswa Baru
Pendaftaran : 01 Mei 2011 s.d 21 Juli 2011
Tes seleksi : 24 Juli 2011
Pengumuman : 31 Juli 2011
Daftar Ulang : 1 s.d 15 Agustus 2011
*) Tes seleksi mencakup tes tertulis, tes lisan (Al-Quran) dan wawancara.
Awal perkuliahan : 12 September 2011.
BIAYA ADMINISTRASI
1. Uang Pangkal Rp. 1.000.000
2. Wakaf tanah Rp. 100.000
3. KTM dan Perpustakaan Rp. 80.000
4. Daftar ulang persemester Rp. 100.000
5. SPP persemester Rp. 1.000.000
6. Dana kemahasiswaan persemester Rp. 70.000
7. Materi Matrikulasi Rp. 300.000
Total biaya persemester Rp. 1.170.000

LAIN-LAIN
Hal lain yang belum jelas bisa ditanyakan langsung ke Panitia, Elfa Robi. HP. 0813 13123710 atau Pusat Informasi Pesantren Telp. 0232 – 613808, HP. 0813 24001600,
SMS center : 085659780000, Website : http://www.husnulkhotimah.com
email: stiahaka@husnulkhotimah.com

Iklan

Oleh: Ust. Imam Nur Suharno, M.Pd.I
Beberapa hari ini, kita disuguhi oleh banyak ramalan tentang akhir kehidupan (kiamat). Isunya, tahun 2012, di hari ke-12 dan bulan ke-12, akan terjadi kiamat. Banyak buku berbicara mengenai tema ini. Kata buku-buku itu, ramalan ini bukan tanpa dasar. Bangsa Maya, salah satu suku di pedalaman Amerika Tengah, memiliki kalender hari kiamat. Berita terbaru menyebutkan bahwa suku Maya sudah meralat dan mengklarifikasi kalender tentang kiamat tersebut. Isu seperti ini juga pernah terjadi pada tahun 1999, bulan ke-9, hari ke-9 dan jam ke-9, akan terjadi kiamat, dan tidak terbukti.
Bagaimanakah seharusnya umat Islam melihat permasalahan ini?
Suatu hari, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril menemui Rasulullah SAW guna mengajarkan beberapa hal tentang agama kepada umatnya, salah satunya tentang hari kiamat. Jibril bertanya, ”Kapankah hari kiamat itu?” Rasulullah SAW menjawab, ”Yang ditanya tidak lebih tahu daripada yang bertanya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam Alquran, Allah SWT berfirman tentang hal-hal ghaib yang tidak diketahui oleh siapa pun, kecuali Dia. ”Sesungguhnya, Allah hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat dan Dia-lah yang menurunkan hujan dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan, tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan, tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengawasi.” (QS Luqman [3]: 34).
Kita wajib mengimani bahwa kiamat pasti terjadi dan tidak diragukan lagi. Sedangkan kapan terjadinya, tidak ada yang tahu selain Allah SWT. Dia merahasiakannya kepada semua manusia, termasuk kepada para Nabi dan Rasul. Dalam hal ini Allah SWT menegaskan bahwa hanya Dia-lah yang mengetahui hari kiamat.
Allah SWT berfirman, “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, kapankah terjadinya. Katakanlah: ”Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanya disisi Tuhanku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu datangnya selain Dia. Kiamat itu amat berat (makhluk yang ada) di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba.” (QS Al-A’raf [7]: 187).
Dan, Allah SWT menjelaskan bahwa kiamat itu akan datang secara tiba-tiba dan sebelumnya akan terjadi tanda-tandanya. Firman-Nya, “Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda-tandanya. Maka apakah faedahnya bagi mereka kesadaran mereka itu apabila hari kiamat sudah datang?” (QS Muhammad [47]: 18).
Dengan demikian, kita wajib mengimani tanda-tandanya yang dijelaskan oleh Rasulullah SAW. Beliau telah menyebutkan tanda-tandanya, baik tanda-tanda yang kecil (’alamat sughra) maupun tanda-tanda yang besar (’alamat kubra).

Tanda-tanda kecil (‘alamat sughra)
Yang dimaksud dengan tanda-tanda adalah isyarat telah dekatnya hari kiamat. Dalam hal ini, banyak sekali riwayat yang memberitakan hal ghaib yang terjadi sebelum datangnya hari kiamat. Hal ini di samping sebagai pemantapan keimanan orang Mukmin, sekaligus merupakan peringatan bagi orang-orang yang ingkar atau yang sesat agar mereka segera beriman. Juga merupakan hujjah yang kuat terhadap orang-orang yang mengingkarinya, khususnya di kalangan umat manusia yang hidup sangat jauh masanya dari masa risalah Muhammad SAW.
Di antara tanda-tanda yang kecil, disebutkan dalam beberapa hadits berikut ini. Pertama, dengan diutusnya Rasulullah SAW. Beliau bersabda, “Jarak di antara diutusnya aku dengan hari kiamat itu hanyalah seperti dua jari ini (sambil menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah).” (HR Bukhari, Muslim, dan Tirmidzi).
Kedua, munculnya fenomena seperti hilangnya ilmu pengetahuan, maraknya kebodohan, perzinahan, minuman keras, sedikitnya kaum laki-laki daripada wanita. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dari tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat adalah diangkatnya ilmu, maraknya kebodohan, banyaknya perzinahan, meluasnya minuman khamar, semakin sedikitnya kaum laki-laki dan semakin banyaknya kaum wanita, yaitu satu banding lima puluh.” (HR Bukhari dan Muslim).
Ketiga, berlomba-lomba dalam kemegahan dunia. “Apabila budak wanita melahirkan tuannya, dan apabila engkau lihat orang-orang yang bertelanjang kaki, berpakaian compang-camping, miskin dan penggembala kambing berlomba-lomba dalam kemegahan bangunan.” (HR Muttafaqun ‘alaih).
Keempat, waktu cepat berlalu. “Tidak akan datang kiamat hingga waktu terasa amat pendek, satu tahun rasa sebulan, satu bulan rasa seminggu, satu minggu rasa sehari, satu hari rasa sejam, satu jam hanya selama membakar satu pelepah kurma.” (HR Ahmad).
Kelima, melimpahnya harta kekayaan. “Tidak akan datang hari kiamat hingga berserakan dan berlimpah-ruahnya harta. Pada saat itu, seseorang mengeluarkan zakat hartanya, namun ia tidak dapati orang yang mau menerimanya, dan hingga tanah Arab kembali ladang luas, padang rumput, dan sungai-sungai.” (HR Muslim).
Keenam, disia-siakannya amanah. Abu Hurairah RA berkata, ”Ketika suatu saat Rasulullah SAW. tengah mengajarkan ilmu kepada sahabatnya, tiba-tiba datanglah seorang Badui seraya bertanya, ”Kapankah datangnya kiamat? Beliau menjawab, ”Apabila amanah sudah diabaikan (tidak diindahkan dan tidak ditunaikan) maka tunggulah kedatangan kiamat”. Lalu bagaimana amanah itu bisa diabaikan? Tanya Badui itu lagi. Beliau bersabda, ”Apabila suatu perkara telah diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancurannya.” (HR Bukhari).
Disamping hadits-hadits tersebut di atas, masih banyak lagi hadits shahih lainnya yang menyebutkan tentang tanda-tanda kiamat.

Tanda-tanda besar (‘alamat kubra)
Saat muncul tanda-tanda yang besar, hal ini menunjukkan bahwa kiamat sudah sangat dekat. Dijelaskan dalam hadits Rasulullah SAW. Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari RA berkata, “Suatu ketika datanglah Rasulullah SAW menghampiri kami yang tengah berbincang-bincang, lalu bertanya: “Apakah yang sedang kalian perbincangkan? Para sahabat menjawab: ”Tentang hari kiamat.” Rasulullah bersabda, ”Sesungguhnya hari kiamat tak akan datang hingga kalian menyaksikan sebelumnya sepuluh tanda-tandanya.” Lalu Beliau menyebut; asap tebal, Dajjal, binatang melata yang besar, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam, keluarnya Ya’juj dan Ma’juj, terjadinya tiga gerhana bulan di timur, gerhana di barat, dan gerhana di Jazirah Arab, dan yang terakhir keluarnya api dari Yaman yang menggiring manusia ke arah Mahsyar.” (HR Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Hikmah iman kepada hari akhir.
Keimanan kepada hari akhir harus menjadi landasan seorang Mukmin dalam menjalani kehidupannya agar selalu berprilaku shalih. Dengan beriman kepada hari akhir banyak hikmah yang dapat dipetik, di antaranya: (1) hidup di dunia yang fana dan singkat ini, bukan cuma sekedar hidup, lalu mati, setelah itu habis perkara. Kehidupan di akhirat ditentukan dari amal perbuatan di dunia, maka selagi kita hidup di dunia, kita akan selalu terdorong untuk beramal shalih; (2) dengan beriman kepada hari akhir, hidup kita menjadi lebih optimis; (3) iman kepada hari akhir akan menumbuhkan sifat ikhlas beramal; (4) dengan seringnya disebutkan masalah iman kepada hari akhir, maka akan mengingatkan orang-orang yang sering lalai dalam kehidupannya karena terpengaruh dengan segala kesenangan hidup di dunia; (5) menghibur orang Mukmin tentang apa yang tidak didapatkan di dunia dengan mengharap kenikmatan serta pahala di akhirat.
Oleh karena itu, ramalan manusia tentang hari kiamat, dengan berbagai argumen ilmiahnya, hakikatnya merupakan dugaan, dan tidak mungkin dijadikan pegangan atau keyakinan. Ramalan tentang kiamat hanya bisa dijadikan sebagai peringatan tambahan kepada manusia agar senantiasa mengingat Allah SWT. Kiamat bisa saja terjadi hari ini, besok, lusa, dan kapan pun jika Allah berkehendak. Pesan penting dari dirahasiakannya hari kiamat adalah agar manusia selalu waspada dan mawas diri untuk tidak terlena dengan kenikmatan duniawi. Wallahu a’lam.

Jaga Persatuan Raih Kemuliaan

Ajaran Islam datang membawa misi membawa rahmat untuk semesta alam, oleh karena itu adanya perpecahan, perseteruan dan percekcokan tidak dikehendaki oleh Islam.
Dalam sejarah terbukti bahwa Rasulullah SAW dalam dakwahnya sangat perhatian terhadap persatuan umat dengan membangun ukhuwah (persaudaraan) antara kaum Muhajirin dan Anshar, dan dengan ukhuwah tersebut menjadi sebuah kekuatan yang besar sehingga meraih kemenangan demi kemenangan dalam dakwah dan dapat menggetarkan musuh-musuh Allah SWT, yang mana sebelum mereka masuk Islam sering terjadi konflik di antara mereka, terjadi permusuhan dan pertentangan antar suku sehingga menjadi penghambat kemajuan dan jatuh dalam kehinaan, kebodohan dan perpecahan, dan inilah ciri khas kaum jahiliyah.
Maka Islam datang merubah kondisi kehidupan mereka, dari kebodohan menjadi berpengetahuan, dari kehinaan menjadi kemuliaan dan dari perpecahan menjadi persatuan. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah SWT dalam Al Quran yang artinya:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)
Dan dengan keimanan itulah yang dapat menyatukan mereka, karena tidak ada kekuatan lain yang mampu menyatukan orang-orang beriman kecuali Allah SWT. Termasuk Rasulullah SAW tidak akan mampu meski seandainya beliau memiliki dan memanfaatkan harta sepenuh bumi, akan tetapi beliau berhasil menyatukan mereka dengan keimanan dan aqidah yang benar. Umat Islam mestinya sangat bersyukur, bahwa Allah telah menjadikan mereka sebagai umat yang satu dalam ajaran yang satu yaitu tauhid, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:
“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepadaKu.” (QS. Al Mukminun: 52), dengan berusaha menjaga persatuan dan kesatuannya. Namun yang terjadi bahkan sebaliknya, sebagian pengikut agama ini telah menjadikan umat berpecah-belah menjadi beberapa golongan dan masing-masing merasa bangga dengan golongannya, sebagaimana dalam firmanNya yang artinya:
“Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).” (QS. Al Mukminun: 53).
Maka Allah memberikan beberapa kiat untuk menjaga persatuan dan kesatuan umat Islam.
Pertama: Menyamakan visi keimanan yaitu hanya menghambakan diri kepada Allah dan meninggalkan thoghut (sembahan selain Allah).
Manakala setiap muslim menyadari sepenuhnya bahwa dirinya adalah hamba Allah yang mestinya merasa terhormat bisa melaksanakan apa saja yang menjadi kehendak Tuhannya yakni Allah, maka ia akan berebut untuk beramal shaleh seperti yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW. Ketika memahami bahwa Rasulullah SAW mengajarkan bahwa umat Islam itu bagaikan sebuah bangunan yang satu bagian saling menguatkan bagian yang lain, maka mereka akan selalu berusaha untuk saling membantu, saling menolong, saling menopang, saling menunjang dan saling mengokohkan.
Kedua: Menghindari perselisihan, menghindari perbedaan pendapat yang mengarah kepada perpecahan.
Memang ada orang yang mengatakan bahwa perbedaan pendapat itu adalah wajar. Namun jika perbedaan itu mengarah kepada perpecahan, hal tersebut tidak dikehendaki oleh Islam karena bertentangan dengan QS. Hud: 118-119. Ayat tersebut mengungkap, bahwa manusia itu senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat. Artinya mereka yang selalu bersilisih itu tidak mendapatkan rahmat Allah. Untuk itu menghindari perselisihan pendapat hendaknya lebih diutamakan.
Ketiga: Bila terjadi perselisihan pendapat di antara orang-orang beriman, maka Allah menuntun mereka untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dalam arti mengembalikannya kepada Al Quran dan Sunnah. Rasulullah SAW berpesan bahwa kita tidak akan tersesat selama-lamanya bila kita berpegang teguh kepada keduanya. Yang menjadi masalah adalah banyak di antara umat ini yang tidak mengenal Al Quran dan Sunnah. Sekalipun mereka telah puluhan tahun memeluk agama Islam, namun mereka tidak terbiasa mempelajari tuntunan Islam. Sehingga yang mereka amalkan dalam kehidupan sehari-hari jauh dari Al Quran dan Sunnah sebagai sumber ajaran Islam. Ada yang terlanjur mencintai tradisi, ada yang terlanjur mencintai golongannya, dan ada yang terlanjur mencintai harta dunia lebih besar dari pada cintanya kepada Allah. Mengingatkan mereka berpotensi untuk mengundang perselisihan. Sehingga Allah mengingatkan, kalau terjadi perselisihan di kalangan umat Islam, maka jalan keluarnya adalah kedua belah pihak harus kembali kepada Al Quran dan Sunnah.
Keempat: Masing-masing individu muslim hendaknya menyadari bahwa menjaga persatuan dan kesatuan itu hukumnya wajib.
Kesadaran ini akan menjadi kekuatan pengendali dari tiap individu muslim untuk tidak berbuat sesuatu yang berpotensi menimbulkan konflik apalagi berpotensi menimbulkan perpecahan. Dia akan merasa bersalah bila pendapatnya memancing perdebatan yang tidak sehat. Dia akan merasa berdosa bila amalnya menimbulkan pro dan kontra yang susah dipertemukan. Dia akan merasa risau kalau-kalau pendapat, ucapan dan amalnya menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Dengan sadar dia akan bersikap toleran terhadap hal-hal yang masih terjadi perbedaan pendapat antar ulama jika akan menimbulkan perpecahan demi menjaga persatuan dan kesatuan umat.
Kelima: Seandainya memang harus berbeda pendapat, maka hendaknya satu kelompok umat dengan kelompok umat yang lain tetap saling menghormati.
Jangan sampai muncul anggapan bahwa orang-orang yang berbeda pendapat dengan kita adalah musuh yang harus diwaspadai. Sikap seperti ini akan memicu terjadinya konflik, karena menunjukkan bahwa mereka telah kehilangan rasa persaudaraannya. Abu Bakar Ashshidiq dan Umar bin Khaththab pernah beberapa kali berbeda pendapat. Namun keimanan mereka yang kuat menyebabkan mereka selalu mengedepankan jiwa persaudaraan mereka. Tidak pernah terjadi putusnya silaturrahim di antara mereka. Bahkan yang muncul adalah semangat berkompetisi untuk memperbanyak amal shaleh.
Untuk itu umat Islam harus mempelajari Al Quran dan Sunnah, berusaha untuk memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan niat ikhlas karena Allah semata, kita berharap untuk diberi kemudahan beramal dengan amalan yang mendatangkan manfaat bagi terjalinnya persatuan dan kesatuan umat. Amin

Setelah kita merayakan ‘Idul Fitri tiba-tiba kita dikagetkan dengan berita beberapa media, baik cetak maupun elektronik yaitu pada hari Rabu (30/9) sekitar pukul 17.16 WIB terjadi gempa dahsyat berkekuatan 7,6 Skala Richter (SR) dengan pusat gempa di arah 57 kilometer barat daya Pariaman, Sumatra Barat, melanda hampir seluruh wilayah Sumatra dan membuat panik jutaan warga.
Datangnya musibah di Negara kita silih berganti selayaknya menjadi bahan renungan dan introspeksi kita. Kita menjadi sadar bahwa hidup di dunia ini penuh dengan ujian dan cobaan, kita harus rajin beramal dengan penuh kesabaran, bukan untuk bersenang-senang semata, karena di akhiratlah kita akan memetik hasil panen tanaman kebajikan kita. Namun setan akan terus bersungguh-sungguh menggoda manusia dari berbagai arah, tapi kitapun meyakini bahwa tipu daya setan itu sebetulnya lemah.
Sebagaimana pula kita habis belajar di madrasah Ramadhan yang mana setan terbelenggu tidak mempunyai kekuatan untuk menggoda manusia, semangat ibadah kaum muslimin di bulan Ramadhan meningkat tajam, hal tersebut sangat tampak di masjid-masjid dan mushalla-mushalla bahkan di kantor-kantor ada kegiatan-kegiatan pengajian.
Dan setelah Ramadhan setan lebih leluasa lagi untuk beraksi dan menggoda manusia, maka ujian setelah Ramadhan semakin berat, tapi semoga bekal pelatihan Ramadhan sangat membantu kesiapan kita untuk menghadapi berbagai ujian di bulan-bulan mendatang sampai bertemu Ramadhan tahun depan, baik ujian mental, fisik maupun materi.
Dan ternyata ujian berat tiba-tiba datang di wilayah Sumatra Barat, dan kita yang berada di wilayah lain ikut peduli dan berbela sungkawa atas musibah yang terjadi, tapi kitapun jangan sampai lalai dan terlena bahwa setiap hari kita juga dihadapkan dengan berbagai ujian, apakah kita siap menghadapinya dengan sikap yang tepat apa tidak.
Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari peristiwa gempa berkaitan dengan ayat-ayat Allah SWT, diantaranya:
– Waktu terjadinya gempa yaitu pada jam 17.16 WIB, ternyata ketika kita membuka Al Quran kita menemukan di surat ke-17 (Al Isra) ayat 16: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” Maka cukuplah ayat tersebut menjadi bahan renungan kita agar kita menyadari bahwa hidup ini adalah untuk banyak melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT bukan untuk berfoya-foya dan banyak berbuat maksiat kepadaNya
– Ada berita juga bahwa gempa susulan berikutnya terjadi pada jam 17.58 WIB, kembali lagi kita buka Al Quran dan kita dapatkan di surat ke-17 (Al Isra) ayat 58: “Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh).” Hal ini juga memberi pelajaran kepada kita jangan sampai kita banyak berbuat durhaka kepada Allah SWT, khawatir azabNya turun kepada kita.
– Lalu pada hari berikutnya terjadi gempa di Jambi dan sekitarnya pada jam 08.52 WIB, ternyata kita dapatkan di surat ke-8 (Al Anfal) ayat 52: “(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.” Hal ini juga menunjukkan bahwa terjadi azab karena pengingkaran manusia terhadap ayat-ayat Allah SWT dan sebab dosa-dosanya.
Demikianlah ayat-ayat Allah SWT yang menunjukkan kebesaran dan keagunganNya, dan jika kita banyak berbuat dosa dan meremehkannya berarti secara tidak langsung mengurangi pengagungan kita kepada Allah SWT dan berakibat mendapatkan ancaman sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Hati-hati perilaku meremehkan dosa dan kesalahan, karena ketika dosa dan kesalahan berhimpun pada diri seseorang, dosa dan kesalahan itu akan menghancurkannya.” (HR. Imam Ahmad)
Untuk itu marilah kita jadikan seluruh musibah yang menimpa diri kita, keluarga kita atau bangsa kita ini sebagai:
1. Pengingatan agar kita tidak melakukan hal-hal yang menyebabkan datangnya musibah dan bencana yang pernah menimpa umat terdahulu.
2. Sarana introspeksi bagi kita untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu (musyrik), tidak sombong dan merasa aman dari azab Allah.
3. Upaya mendekatkan diri dan tawakkal kita kapada-Nya.
4. Upaya meningkatkan kualitas iman, amal dan taqwa kita untuk mendapatkan ampunan dan surga-Nya.
Akhirnya, semoga segala ujian dan cobaan kita sikapi dengan sikap yang positif yaitu sabar dan ridha terhadap ketentuan Allah SWT dan tetap semangat menjalani kehidupan tanpa mengenal putus asa dan senantiasa berusaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT serta menyadari bahwa yang layak diagungkan hanyalah Allah SWT sebagaimana perintahNya di akhir Ramadhan agar kita mengumandangkan takbir berulang-berulang sebagai bukti kemenangan kita dan begitu pula setelah usai Ramadhan kita tetap mengagungkanNya dalam setiap ibadah shalat, kita mengucapkan takbir dari awal shalat dan saat pindah dari rukun shalat yang satu ke rukun yang berikutnya sampai mengakhiri shalat dengan ucapan salam.